Kamis, 25 Oktober 2012
Prince Close Up
Disuatu pedesaan, perwakilan kerajaan mengumumkan bahwa Raja membutuhkan seorang pangeran untuk Putrinya dan memimpin kerajaan di masa depan. Audisipun dilakukan di Istana kerajaan. Dengan tersenyum, Seorang Pria Misterius sangat tertarik untuk mengikuti audisi tersebut.
Di Istana, audisi mencari pangeranpun dimulai. Dari semua kalangan datang untuk mengikuti audisi ini. Disana terdapat Raja, Ratu dan Putri kerajaan yang menjadi jurinya.
Saudagar kaya yang membawa sekarung perhiasan. Raja mesir yang membawa tumpukan koin emas. Pangeran India dengan berliannya, Bajak laut dll. Tapi itu semua tak dapat menggetarkan hati sang Putri.
Datang pria misterius berjubah coklat. Dengan membawa sesuatu yang ditutupi kain hitam di atas nampan, langkah demi langkah, setiap hembusan nafasnya membuat dayang-dayang disekitarnya melting. Didepan Putri, pria misterius itu membuka tudung kepalanya dan tersenyum kepada putri. Giginya yang bersinar membuat putri takjub. Pria Misterius itu menyapanya “hai”. Hembusan nafasnya sampai ke Putri kerajaan, membuatnya Melting dan membuat dayang-dayang pingsan.
Pria misterius itu membuka hadiah yang ia bawa dari nampan, ternyata sebuah pasta gigi CLOSE UP. Tanpa ragu putri kerajaan memilih pria misterius itu untuk menjadi pangerannya.
Jumat, 31 Agustus 2012
gadis mawar merah
Aku benci ayahku. Dia sudah myakitiku dan ibuku. Dia meninggalkanku disaat umurku sudah 9 tahun. Dia lebih memilih wanita lain dibanding wanita yang pernah ia cintai. Menurutnya dia akan lebih mendapatkan kebahagiaan harta dan kepuasan seks ketika bersama wanita jalang itu.ku panggil dia Gloria. Kami memang miskin, tapi kami bertiga selalu merasa kecukpan dan bahagia , sampai pelacur itu dating dan menghancurkan semuanya.
Burung itu berkicau dengan suara nyaring, dan memberi tahuku bahwa sekarang sudah jam 7 pagi. Berat rasanya membuka mata. aku sudah berumur 22tahun sekarang. Tahun demi tahun kehidupan kami membaik. Kopi hangat ini melengkapi pagi yang dingin ini sambil berjalan berangkat kerja. Ruteku adalah melewati taman kota, ditengah jalan aku melihat lagi gadis kecil memakai gaun merah dengan sebatang tangkai mawar ditangannya. Rambut panjangnya terhempas angin seperti rumput yang sedang menari. Tak heran dia berjalan seperti melayang, menari balet. Dengan senyumnya yang tipis secara spontan senyumku membalas. Dia melewatiku yang selalu ditemani hembusan angin. Entah kenapa ada sesuatu yang berbeda yang dimana aku selalu memperhatikannya. Ini kedua kalinya.
Apakah ini akan terjadi lagi dengan hal yang kemarin. Disaat aku pulang kerja dan kembali melewati taman kota. Aku kembali melihat gadis kecil gaun merah itu. Dengan sedikit perbedaan. Tidak membawa setangkai mawar. Kakinya kotor dengan tanah merah bersama sandal jepitnya yang berwarna merah. Dan dia tidak menari lagi, tidak seperti melayang. Tapi gadis itu tetap tersenyum. Ini kedua kalinya.
Aku memutuskan akan mengikuti gadis itu kemana ia pergi, setelah apa yang aku lihat kemarin. Ku buntuti gadis itu dari belakang sampai tiba di suatu makam. Aku melihat dari balik pohon. Gadis itu berdiri tegak didepan makam yang penuh dengan mawar. Gadis itupun menaruh mawar yang ia bawa dimakam tersebut. Aku menghampirinya, dengan sepatuku yang kotor karena tanah merah ini yang dicapur dengan air akibat hujan.
Aku bertanya “apa yang sedang kamu lakukan disini gadis kecil?”. “kasihan” gadis kecil itu sambil tersenyum, “kasihan dia ayahku, tak seorangpun memperhatikanya”
tiba-tiba airmata pun keluar membasahi pipinya yang merah. “memang ibumu kemana?” tanyaku kembali. “ibuku sudah senang bersama laki-laki lain.”.
“siapa namamu ?” tanyaku dengan senyum. Aku pun merapihkan makam, batu nisan yang tertutup oleh tumpukan mawar. Setelah aku melihat nama itu. Aku tersentak kaget dan tak percaya. Dan tiba-tiba gadis itu menjawab. “namaku Gloria Anabella”. Takbisa berkata apa-apa, akupun menangis. “kau adalah ayah dan adiku”.
31 august
Selasa, 28 Agustus 2012
CATATAN
berusaha untuk ku gores
apakah tintanya menempel ??
ya.. hampir terhapus
garis hitam itu masih ada
coretan itu menggangguku
itu tak bisa ku hapus
tak perlu ku hapus
paragraf pertama sampai terakhir
ku "tebalkan"
jangan lupa membuat
kesimpulan
12 dec 2011
Selasa, 02 Agustus 2011
ARTIS JALANAN
Aku melamun. Pada umur sepuluh tahun, aku sudah banyak dikenal orang, mendapatkan uang. Karena aku suka bergoyang. itu saran dari ibuku, mungkin karena aku perempuan. Jika tidak mau, aku harus tidur hanya menggunakan selimut tanpa alas. Tetapi disitu aku bisa berpikir tentang apa saja, tanpa rasa takut melampiaskan rasa kesalku yang akan sampai ke gendang telinga ibuku.
Cuaca hari ini dapat membuat kulitku mengeluarkan air yang selalu kuusap ketika keluar dari dahiku. Aku sedang menunggu panggungku datang.dan sedang mempersiapkan senjataku untuk konser.Alat yang dapat membuat suaraku terdengar lebih merdu saatku melantunkan nada, selalu ku pegang erat-erat dikepalanku. dan kugendong kotak hitam seperti bayi, agar semua pendengar dapat mendengar desahanku. sudah kesekian kalinya aku mengusap air yang didahi, aku menunggu panggungku datang. bersama orang-orang yang berdasi dan berkaos, dan orang yang berbisnis dari berbagai macam suku, kulit, kelamin, berkumpul dengan keperluannya masing-masing.
Aku melihat panggungku dari titik sampai sudah mendekat. Aku segera merapatkan barisan bersama calon penonton-penontonku. dengan menggunakan costum yang agak mencolok, aku menaiki panggungku diikuti banyak jejak kaki yang menempel. Panggung besi ini panjang bagaikan roler coster, ada delapan panggung dalam satu roler coster ini yang akan kubuat menjadi konserku. dan aku harus mencari sepeser logam dan kertas dai satu panggung ke panggung selanjutnya untuk hidupku.
Beberapa orang melihatku, entah apa artinya itu, apa mereka mengetahuiku atau ada konsep tertentu dengan pemikiran yang aneh, melihatku seperti ini. tapi memang ini tugasku, membuat banyak mata ke arahku agar dapat logam dan kertas kehidupan. Aku menekan tombol kotak seperti bayi yang ku gendong, menandakan acaranya dimulai. banyak mata yang kudapatkan setelah kotak bayi ini berdengung. aku tak memperdulikan arti dari pandangan itu.
Cuaca hari ini dapat membuat kulitku mengeluarkan air yang selalu kuusap ketika keluar dari dahiku. Aku sedang menunggu panggungku datang.dan sedang mempersiapkan senjataku untuk konser.Alat yang dapat membuat suaraku terdengar lebih merdu saatku melantunkan nada, selalu ku pegang erat-erat dikepalanku. dan kugendong kotak hitam seperti bayi, agar semua pendengar dapat mendengar desahanku. sudah kesekian kalinya aku mengusap air yang didahi, aku menunggu panggungku datang. bersama orang-orang yang berdasi dan berkaos, dan orang yang berbisnis dari berbagai macam suku, kulit, kelamin, berkumpul dengan keperluannya masing-masing.
Aku melihat panggungku dari titik sampai sudah mendekat. Aku segera merapatkan barisan bersama calon penonton-penontonku. dengan menggunakan costum yang agak mencolok, aku menaiki panggungku diikuti banyak jejak kaki yang menempel. Panggung besi ini panjang bagaikan roler coster, ada delapan panggung dalam satu roler coster ini yang akan kubuat menjadi konserku. dan aku harus mencari sepeser logam dan kertas dai satu panggung ke panggung selanjutnya untuk hidupku.
Beberapa orang melihatku, entah apa artinya itu, apa mereka mengetahuiku atau ada konsep tertentu dengan pemikiran yang aneh, melihatku seperti ini. tapi memang ini tugasku, membuat banyak mata ke arahku agar dapat logam dan kertas kehidupan. Aku menekan tombol kotak seperti bayi yang ku gendong, menandakan acaranya dimulai. banyak mata yang kudapatkan setelah kotak bayi ini berdengung. aku tak memperdulikan arti dari pandangan itu.
Jumat, 10 Juni 2011
mata"mata
Lihatlah maka kau akan tau....
kenapa setiap kali kumelihat,tak bisa?
seperti magnet kutub utara dan selatan
tapi selalu ku coba..
sudah ku coba,, tangan ku gemetar,,
mataku basah,, berusaha ditatar
mulut membisu rapat
menempel setiap sendi-sendi bagian bibir ku
tubuh menempel semen padat
di setiap pori-pori kulit Ku
matamu...
memandang tajam halus
kedipan penuh arti bebas
pandangan melengkapi, membias
matamu...
aura halus membias tajam
kenapa setiap kali kumelihat,tak bisa?
seperti magnet kutub utara dan selatan
tapi selalu ku coba..
sudah ku coba,, tangan ku gemetar,,
mataku basah,, berusaha ditatar
mulut membisu rapat
menempel setiap sendi-sendi bagian bibir ku
tubuh menempel semen padat
di setiap pori-pori kulit Ku
matamu...
memandang tajam halus
kedipan penuh arti bebas
pandangan melengkapi, membias
matamu...
aura halus membias tajam
Langganan:
Postingan (Atom)
